Senin, 19 Februari 2018

Budaya

BUDAYAKAN BUDAYA BERBUDAYA

Di sebuah statsiun terlihat gerombolan orang yang menanti kedatangan kereta. Ekspresi mereka kebanyakan lusuh bercampur lelahTiba-tiba terdengar lengkingan tinggi disertai dengan getaran yang lambat laun bertambah kuat. Rupanya kereta sudah dekat. Semakin dekat maka semakin kuat getarannya sehingga hampir memecahkan gendang telinga.  
Namun apa yang terjadi tatkala kereta sudah berhenti. Para penumpang yang sudah lama menunggu kereta berlomba-lomba menaikinya. Mereka tidak peduli siapa saja yang ada didepannya akan mereka desak dengan kuat dan kasar. Kadang ada yang sampai terjatuh terdorong oleh orang dibelakangnya meskipun tak sampai terinjakBahkan orang tuapun tak luput dari situasi seperti ini. Ikut terdesak dan terjepit. Sepertinya etika kepada orang tua sudah luntur. 
Di tempat lain antrian panjang terlihat ketika para calon penumpang menaiki tangga berjalan menuju rung tunggu sebuah statsiun. Dengan sabar mereka mengantri dan berusaha untuk tidak mendahului orang di depannya. Sesampainya di atas, mereka mencari tempat duduk yang nyaman dan melanjutkan kegiatan mereka. Terkesan tertib. Wajah-wajah yang terpancar tidak nampak lelah dan kelihatan tenang. Sebagian dari mereka asik dengan bacaannya. Mereka sangat menikmati suasana menunggu kedatangan kereta. Ketika kereta tiba, dengan tenang mereka masuk melalui masing-masing pintu tanpa tergesa-gesa. Sungguh pemandangan yang nyaman dipandang.
Dua ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana dua situasi budaya yang kontras dalam menghadapi situasi yang sama namun sikap yang diperlihatkan berbeda. Dari dua ilustrasi itu budaya yang mana yang kita miliki. Fakta membuktikan bahwa bangsa kita lebih cenderung memiliki budaya pada ilustrasi pertama. Bagaimana hal tersebut dapat menimpa bangsa ini. Padahal, budaya yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya akal dan berbudaya yang memiliki makna mempunyai budaya, mempunyai akal dan pikiran yang sudah maju merupakan indikator kuat bagi bangsa yang maju. Bahwasanyabangsa yang maju adalah bangsa yang berbudaya. Berbudayakah kita?
Beraneka ragam budaya dari Sabang sampai Merauke. Kita kaya akan budaya dibandingkan dengan negara tetangga kita. Dan kerap mendengar slogan yang meneriakkan lestarikan budaya kita. Di sisi lain kita akan marah besar tatkala ada bangsa lain yang mengklaim budaya kita, lantang kita teriakkan sikap menentang. Dengan keaneka ragaman budaya yang kita miliki seyogyanya menjadikan kita bangsa yang mempunyai akal dan pikiran yang maju. Menjadi bangsa berbudaya.
Realitas saat ini ternyata bertolak belakang dengan apa yang kita cita-citakan. Misalnya, korupsi menjadi trendi, kolusi menjadi sebuah candu yang memabukkan tanpa solusi, pemerasan terjadi bukan hanya di dunia preman namun justru pelakunya adalah para petinggi negeri ini yang berwajah dermawan, dan pelecehan seksual mendera para wanita yang kebanyakan tidak memiliki tubuh sensual, serta dekadensi moral yang melanda negeri kultural. Sehingga mendegradasikan bangsa ini ke level bangsa yang kurang berbudaya.  
Kita seperti kehilangan kekuatan dalam mempertahankan identitas bangsa dan karakter bangsa. Tergerus oleh budaya asing yang melanda negeri ini tanpa ada filter yang menyaring. Tersesat di tengah hiruk pikuknya jaman yang serba cepat. Mengakibatkan anak bangsa bangga meniru budaya yang berhampuran tanpa rasa malu. Mau kemana bangsa ini.        
Untuk mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa berbudaya bukan seperti membalikkna telapak tangan. Butuh waktu, proses, komitmen dan kerjasama yang harmonis dan sinergis. Tidak hanya sekolah yang menjadi sasaran utama dari pembentukan bangsa berbudaya namun semua elemen masyarakat harus bahu-membahu, bekerja sama dalam kerangka  membudayakan budaya berbudaya.
Ada beberapa proses yang dapat mendukung terwujudnya bangsa yang berbudaya melalui belajar budaya secara mandiri. Pertama melalui proses internalisasiInternalisasi adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia meninggal dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat napsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Dari hari ke hari dalam kehidupannya, seorang manusia bertambah pengalaman mengenai bermacam-macam perasaan baru maka tanamkanlah nilai-nilai budaya sejak dini sehingga ketika dewasa anak akan memiliki kepribadian yang kuat  dan karakter hebat.  
Yang kedua adalah proses sosialisasi. Sosialisasi adalah semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai kedudukan dalam masyarakatnya  yang dijumpai seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sejak ia dilahirkan. Para individu dalam masyarakat yang berbeda-beda juga mengalami proses sosialisasi yang berbeda-bed dan proses itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkutan.
Lingkungan di mana kita tinggal memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan budaya. Lingkungan yang kondusif akan mendorong dan menstimulus individu-individu menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan pantang menyerah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ruth Benedict bahwa suatu kepribadian dianggap bersifat normal apabila sesuai dengan tipe kepribadian yang dominan, sedangkan tipe kepribadian yang sama jika sesuai dengan tipe kepribadian dominan akan dianggap 'abnormal'.

Kondisi lingkungan yang berbudaya akan berdampak positif bagi perkembangan masyarakat. Begitu juga figur publik, misalnya tokoh masyarakat, birokrat, wakit rakyat dan banyak lagi yang berpengaruh akan sangat mewarnai sikap, prilaku, nilai budaya yang tertanam di masing-masing individu. Figur publik adalah agent of change yang bisa memberikan perubahan kepada arah kehidupan berbudaya. Jika para figur publik membuat satu tindakan yang tidak sesuai dengan nilai budaya maka respon dari masyarakat akan sangat reaktif.         
Yang ketiga adalah proses enkulturasi. Enkulturasi adalah prosesseorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma dan peraturan yang hidup dalam kehidupannya. Sejak kecil proses ini sudah mulai tertanam dalam alam pikiran warga suatu  masyarakat. Mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarganya,  kemudian teman-teman bermainnya. Seorang individu akan belajar meniru berbagai macam tindakan. Dengan berkali-kali meniru maka tindakannya menjadi pola yang mantap dan norma yang mengatur tindakannya “dibudayakan”.
Selain melalui upaya-upaya tadi, pada prinsipnya pembudayaan budaya yang lebih berbudaya dapat terwujud secara optimal melalui upaya sistematis dan terpadu. Penting juga melakukan upaya rekayasa sosial yang mendukung upaya tadi. Dalam bentuk penguatan kesadaran dalam berbagai level di lingkungan masyarakat.
Faktor lain yang juga mendukung upaya tadi adalah melakukan dua strategi yang bersifat top down dan bottom up. Strategi top downdilakukan melalui berbagai regulasi yang mengkondisikan upaya penanaman budaya yang berbudaya. Sebagai contoh pemerintah perlu terus mengawal dan merealisasikan program pendidikan karakter yang menjadi salah satu titik masuk pembudayaan budaya berbudaya. Muatan utama pendidikan karakter tidak terlepas dari dua pendekatan penting yaitu intervensi dan habituasi. Intervensi dilakukan dengan memberikan ruang gerak dan campur tangan yang seluas-luasnya bagi para pendidik dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
Pendekatan habituasi dilakukan dengan berbagai penciptaan situasi dan kondisi di lingkungan sekolah atau tidak menutup kemungkinan di setiap instansi pemerintah dan non pemerintah sehingga tercipta budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya itu sendiri.  Strategi bottom up tidak lain adalah upaya merevitalisasi berbagai bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai luhur dan masih relevan dengan situasi saat ini.
Sangat mudah melakukan semua hal tersebut dengan niat baik dan kerja keras semua pihak. Tapi, tidak ada yang mustahil kalau kita bersungguh-sungguh melakukannya. Semoga.

Dr. Syarif Hidayat, S.Pd., M.T
Pengawas Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar